Thursday, August 12, 2010

Jember, Menuai Kreasi di Dunia Mode


Jember: Sekelompok pencinta mode memulai parade dari sejumput mimpi, dan menebar cipta, untuk menuai kreasi tinggi di dunia mode. Jember Fashion Carnaval, pergelaran yang berawal dari sekolah mode di kota tersebut. Konsep pergelaran busananya, yakni karnaval jalanan.

Konsep itu terinspirasi dari acara peragaan busana, karnaval Rio de Janeiro di Brasil. Karnaval jalanan Jember, Jawa Timur, diadakan tiap tahun. Setiap pagelarannya, mengangkat isu tentang budaya, tradisi maupun peristiwa besar yang telah dikenal di dunia. Peragaan busana itu banyak menampilkan budaya dari luar Jember.

Kini, setiap tahunnya, karnaval Jember menebarkan hiburan baru bagi rakyat di kota tersebut dan sekitarnya. Bahkan dengan media fotografi, ajang ini semakin dikenal luas. Kota Jember, lekat dengan budaya agraris dan pedesaan. Kekayaan Kota Jember, terletak pada pertanian padi, tebu dan tembakau.

Mayoritas penduduk Jember adalah petani. Jember Fashion Carnaval menginpirasi beberapa orang. Salah satunya Rohim. Pemuda tamatan sekolah menengah kejuruan ini kerap membantu ibunya menggarap ladang. Setiap tiga bulan sekali, Rohim membantu menanam jagung di sepetak lahan. Setiap hasil panen jagung ia tabung.

Hasil panen jagung dimanfaatkan untuk mengikuti lomba karnaval mode di kotanya. Rohim bercita-cita menjadi seorang desainer. Impian yang beda dari pemuda kebanyakan di desa itu. Bagi Rohim, karnaval menjadi jembatan mendapat beasiswa sekolah mode. Tabungan yang ada saat ini, sebagian besar dihabiskan untuk biaya membuat kostum, dengan modal satu juta rupiah.

Bahan-bahan yang digunakan tergolong cukup mahal. Namun, ia juga memanfaatkan barang bekas untuk kostum buatannya. Bahkan, ia menggunakan besi untuk membuat kostum sayap. Munawaroh, ibunda Rohim, mendukung cita-cita anaknya. Rohim pemuda desa yang terkesan lugu, semakin terampil memoles wajah. Penampilan desa ia tinggalkan, berganti menjadi glamor.

Hiasan berkarakter, ia kenakan demi menyesuaikan tema langit mimpi, dream sky. Dengan gaunnya ala sang pemimpi dari langit, Rohim menampilkan diri yang berbeda. Keluarganya pun membantu ke tempat penjurian. Kota yang berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini dikenal pula sebagai kota santri.

Puluhan pesantren terdapat di kota ini. Pesantren dan santri, melekat bagi orang Jember. Nilai ajaran tetap dipegang teguh, walau dunia teknologi semakin memodernkan cara belajar dalam dunia pesantren. Tidak hanya Rohim, pemudi Kota Jember, seperti Tiara ingin mengikuti karnaval mode.

Perempuan belia ini, ingin menjadi model. Walau ingin menjadi model, Tiara juga senang membuat kostum untuk peragaan busana. Tiara mengenakan tema etnik Toraja. Tiara juga merancang sendiri kostum untuk karnaval tersebut.

Hari penjurian pun tiba. Penjurian itu penting bagi Rohim ataupun Tiara. Karena dari penjurian tersebut, peserta dapat dijadikan andalan dalam karnaval. Peserta berkreasi unik, adu kemegahan, dari tinggi aksesori yang dipakai, hingga beratnya.

Seperti kostum kabuki asal Jepang, aksesorinya menjulang tinggi hingga lima meter, dan sandal bakiak 30 sentimeter, sehingga memaksa peserta menahan beban berat dari kostum yang dikenakan. Para peraga catwalk, bukanlah model profesional, tapi hanya jebolan sekolah menengah atas. Para peraga busana adalah perancang busana juga.

Para peserta minim mendapat ilmu desainer, namun hasil karya mereka melebihi imajinasi desain pada umumnya. Keterampilan dan kreativitas para pemenang akan diapresiasi dengan beasiswa sekolah mode. Jember Fashion Carnaval adalah pergelaran busana tahunan yang diusung oleh Dinan Fariz.

Tahun ini adalah tahun kesembilan. Tema kali ini adalah World Tresure atau Harta Karun Dunia. Boleh dibilang, karnaval tersebut memadukan musik tarian, teatrikal dan mode. Parade itu mencoba mensejajarkan dengan peragaan busana di Rio de Janeiro, Brasil.

Pekan mode itu bertujuan mengangkat talenta muda dalam merancang busana. Lokasi peragaan busana sekitar 3,6 kilometer, menjadi catwalk terpanjang di dunia. Peserta yang mengikuti kompetisi tersebut mencapai ratusan orang, dan dihadiri penonton hingga ribuan orang.

Dream sky, langit mimpi. Rohim menjadi pamungkas dari langit mimpi. Bentangan sayap hingga empat meter, dengan makhota setinggi satu meter. Rohim menjadi salah satu bintang di parade tersebut. Rohim merupakan anak desa yang terus bermimpi untuk mengangkat kreativitasnya.

Sedangkan Tiara, mewakili parade Toraja dengan etnik. Ritus pemakaman Toraja menjadi inspirasi Tiara untuk menarikan secara teatrikal, topi makhota Toraja, dengan bobotnya mencapai dua kilogram. Makhota Toraja menjadi maskot etnik Indonesia di karnaval itu.

Jember, mempertemukan budaya kota dan desa. Kota kecil tempat masa depan perhelatan busana, yang ingin mendunia. Jember, menggapai impian, parade dari secercah mimpi, kini menebar cipta untuk menuai kreasi tinggi di dunia mode.




0 komentar: